8.10.2020

Organization Alignment: Sebelum Budaya Organisasi Disalahkan



Kata seorang manajemen guru, "Culture eats strategy for breakfast". Peter Drucker yg sering di-quote mengatakan hal tsb dan kemudian seringkali diucapkan oleh banyak konsultan manajemen. Inilah yg menyebabkan company culture menjadi sering banget dibahas dan menjadi obsesi banyak pimpinan perusahaan.

 

Apa itu company culture atau budaya perusahaan? Mungkin sudah ada pajangan ‘culture statement’ atau ‘company values’ didinding perusahaan, tetapi apakah ini budaya? Pada kenyataannya, seringkali budaya perusahaan yg sesungguhnya tidak pernah terlihat, tetapi semua orang dalam organisasi pasti dapat merasakannya. Bahkan terkadang, pelangganpun juga akan dapat merasakannya.

 

Budaya yg sesungguhnya, tercermin pada bagaimana cara orang berbicara satu dengan yg lain dan dengan pihak luar, bagaimana setiap orang mengerjakan dan menyelesaikan tugas dan bagaimana berbagai keputusan diambil. It’s just there. Inilah yg membuat budaya real perusahaan menjadi unik dan sulit diimitasi.

 

Beberapa organisasi gets it. Mereka memiliki banyak pelanggan yg setia yg seringkali menjadi fans mereka. Karyawan mereka juga produktif dan sangat bersemangat. Terlihat organisasi2 ini memiliki masa depan cerah.

 

Pada pihak lain, cukup banyak organisasi yg merasa something is not working. Produktivitas rendah. Karyawan pasif dan malas2. Dan perusahaan tidak pernah bisa inovatif seperti tetangga sebelah. Sepertinya ada yg salah diorganisasi. Ketika gejala2 sakit yg ‘ngambang’ seperti ini mulai parah, bisa-bisa yg disalahkan adalah budaya, ‘budaya perusahaan kita gak bagus nih’. Kemudian, memanggil konsultan untuk men-‘transformasi’ budaya mereka. Terkadang dengan objektif, ingin meniru budaya kompetitor yg bagus.

 

Tetapi apakah benar inisiatif ini yg perlu diambil? Siapa tahu, mungkin sebenarnya kita tidak perlu men-‘transform’ budaya perusahaan, karena memang masalahnya bukan disitu.

 


Kalau bukan budaya, apa kemungkinan lainnya?


Benarkah budaya perusahaan tidak bagus? Padahal didinding jelas2 terpampang banyak tulisan dalam bingkai... ‘Our mission’? ada. ‘Our vision’? ada. ‘Our culture statement’? ada. ‘Our values’? ada.  Sptnya yg tertulis isinya oke-oke saja... bagus banget malah. Dan kalau dipikir2, sepertinya tidak terlalu beda dng kompetitor sebelah yg katanya punya ‘good company culture’ itu. Tapi koq gak working? Jadi salahnya dimana?

 

Jika nilai2 yg dibuat sudah benar, tapi tidak terefleksikan pada perilaku karyawan, maka mungkin saja jawabannya bisa sesederhana ini: ada ‘inkonsistensi’ pada implementasinya.

 


Inkonsistensi & Friksi


Berada diperusahaan dng budaya yg bagus itu seperti berada dipertunjukan orkestra apik. Dari maestro yg men-set dinamika yg menyentuh emosi, kontribusi setiap individu pemain instrumen musik yg bermain indah dan sinkron, hingga sang diva yg bekerjasama dng baik. Semua detail-pun tertata rapi: setiap instrumen ter-tala dng baik, akustik gedung sempurna dan kenyamanan penonton diperhatikan... keseluruhan experience: Sempurna! If they got it right: you felt it, you enjoyed it and the whole experience is worth it. Sangat mirip dng budaya.

 

Jadi bisa dibayangkan, jika ada satu saja yg tidak konsisten, maka akan langsung menganggu. Ini yg saya maksud dengan ‘inkonsistensi’. Satu saja instrumen musik yg tidak tertala akan mengganggu dikuping, apalagi kalau ada pemain instrumen yg tidak sinkron. Atau, jika sang maestro tidak bersemangat dalam memainkan dinamika, akan membosankan. Juga pada saat sang diva muncul dng ego sendiri, malah akan sangat mengganggu. Akustik mendem atau terlalu hidup akan merusak kesempurnaan output permainan orkerstra, bahkan kursi yg tdk nyaman akan juga menganggu kenikmatan.

 

Tidak ada yg salah dengan partitur musik karya komposer ternama yg berada didepan mata setiap anggota orkestra, tetapi ada inkonsistensi dalam menterjemahkan karya musik tsb menjadi sesuatu yg dapat dinikmati dan dihargai.

 

Balik ke organisasi. Organisasi yg memiliki ‘budaya baik’ sebenarnya sekedar menurunkan budaya dari tujuan organisasi yg sebenarnya. Tujuan organisasi merupakan refleksi yg lebih mendalam mengenai mengapa organisasi tersebut dibangun dan apa yg sebenarnya ingin dicapai.



Tujuan organisasi didirikan akan membentuk budaya organisasi. Budaya akan menggerakan proses kerja. Proses kerja akan membentuk perilaku karyawan. Dan perilaku karyawan akan tercermin pada cara mereka memberikan pelayanan kepada pelanggan.

 

Yg menjembatani ‘tujuan’ dan ‘perilaku’ adalah ‘proses kerja’. Dan jika ada inkonsistensi dalam konstruksi ‘jembatan’ ini, maka tinggi kemungkinan jembatan menjadi tidak kokoh, malah bisa jadi hal ini yg akan menyebabkan suatu hari jembatan ambruk. Sebagai catatan, saya mereferensikan ‘proses kerja’ secara luas, yaitu segala hal yg dpt mempengaruhi proses kerja, termasuk: systems & processes dan kondisi kerja.

 


Inkonsistensi menciptakan friksi. Friksi menciptakan ketidakpuasan. Ketidakpuasan akan mengurangi produktivitas. Ketidakpuasan juga akan tercermin di front line, spt karyawan sales dan customer service.

 

Biasanya, pada organisasi yg memiliki konsistensi antara apa yg diinginkan dengan bagaimana mengerjakannya, tidak akan ada friksi antara bagaimana para eksekutif berpikir dan mengambil keputusan dengan cara karyawan berperilaku sehari-hari di lapangan dan diseluruh bagian organisasi. Bagaikan orkestra tadi, apa yg dipikirkan dan dirasakan oleh maestro akan dapat diterjemahkan oleh masing2 pemain yg kompeten memainkan berbagai alat musik yg ter-tala dengan baik dan saling mengisi, sehingga menghasilkan perpaduan suara yg harmonis.

 

 

Organizational Alignment


Jadi, jika gejalanya adalah produktivitas karyawan rendah, tidak punya motivasi kerja, daya juang rendah, maka ada kemungkinan penyebabnya adalah inkonsistensi. Jika benar inkonsistensi, maka kemungkinan obatnya adalah alignment.

 

Alignment bukanlah inisiatif yg bersifat quick fix, krn keseluruhan organisasi perlu dikaji, minimal dilihat—tidak boleh ada yg terlewat atau disembunyikan. Sebagai indikasi awal, jika segala sesuatu di-organisasi sudah ter-align dengan baik maka seluruh karyawan dan pelanggan akan mengatakan mereka mendapatkan pengalaman yg baik dalam organisasi (good employee experience & customer experience). Inilah yg dimiliki organisasi dengan budaya yg baik.

 

Untuk memastikan alignment, kita perlu mengkaji pada setidaknya 3 hal dalam organisasi: leadership team alignment, operational alignment dan employee alignment.

 


Leadership Team Alignment


Memang akan menjadi sedikit lebih mudah, jika founder dan para eksekutif sudah sejak awalnya ter-align satu sama lain. Align dalam cara berpikir dan bertindak.

 

Leadership team yg align sangat kritikal agar tidak menimbulkan kebingungan di-organisasi. Seperti dalam orkestra hanya ada satu maestro agar musik harmonis, maka output dari dari leadership team harus selalu berupa satu kesatuan. Tidak bisa ada mixed messages.

 

Berikut langkah2 yg dapat digunakan untuk melakukan leadership team alignment: Pertama2 Assess level alignment/ misalignment yg ada. Berikut jenis2 pertanyaan yg bisa membantu assessment ini: Menurut anda, apa yg menjadi prioritas organisasi? Seberapa baik tim men-challenge satu dng yg lain? Seberapa baik unit bisnis atau fungsi yg ada bekerja sama? Apakah masing2 mengerti tantangan yg dihadapi anggota tim lainnya?

 

Kemudian Engage untuk mencari root cause dibelakang level misalignment tsb. Terkadang analisis menunjukan issue yg sederhana spt setiap anngota leadership team hanya membutuhkan kejelasan mengenai goals dan accountabilities masing2. Tetapi juga tidak jarang, issue berhubungan dng seberapa efektif hubungaan antar anggota leadership team tsb.

 

Setelah mengetahui root-cause terhadap misaligment, perlu Commitment untuk perbaikan. Commitment untuk melakukan perubahan/ penyeseuaian perilaku dan/atau langkah2 nyata lainnya. Commitment ini merupakan langkah paling penting dan bisa jadi juga tersulit, karena terkadang mengambil tough decision, spt mengganti beberapa personil untuk memastikan commitment ini tercapai.

 

Jika anda founder atau eksekutif tertinggi, pastikan alignment leadership team ini menjadi perhatian utama. Jangan melangkah lebih lanjut sebelum hal ini selesai, karena jika tidak, inisiatif2 berikutnya hanya akan sekedar membuang waktu dan biaya.

 

Operational Alignment


Setelah leadership team ter-align maka kita dapat mulai fokus pada level yg lebih operasional. Untuk melakukan operational alignment, bayangkanlah seperti bermain jigsaw puzzle. Tentunya banyak sekali potongan2 puzzle, termasuk kebijakan, prosedur operasional, sistem informasi, instruksi kerja, dsb.

 

Biasanya daripada bingung melihat banyaknya potongan2 puzzle, kita akan mulai dng fokus membentuk pinggiran dahulu. Sama, untuk sedikit mempermudah dan menjawab pertanyaan ‘kita perlu mulai dari mana?’ Maka yg bisa digunakan sebagai bentuk pinggirannya adalah tiga hal ini: structure, performance measurement dan reward, sbb:

 


Ketiga hal ini akan membentuk bagaimana kita meng-organisir fungsi2 yg ada (structure), bagaimana kita mendefinisikan dan mengukur kinerja—apa yg perlu menjadi fokus pekerjaan masing2 (performance measure) dan bagaimana kita meng-evaluasi dan reward karyawan2 yg berperilaku sesuai (reward). Ketiga hal ini akan berpengaruh dalam membentuk rutinitas karyawan di organisasi. Dengan rutinitas yg terbentuk, maka akan menjadi habit. Dan tentunya habit yg akan membentuk perilaku karyawan menjadi konsisten.

 

Setelah ketiga hal tsb terbentuk—rapi dan align, maka akan menjadi petunjuk kearah mana analisis lanjutan perlu diambil. Dan potongan2 puzzle lainnya bisa mulai sedikit demi sedikit dilihat, dianalisis dan tentunya ditempatkan pada posisi yg tepat agar tersambung satu sama lain. Mengerti rantai nilai (value chain) diperusahaan dan industri akan sangat membantu untuk memastikan tidak ada yg terlewatkan.

 

Pendekatan untuk perusahaan kecil maupun besar akan mirip saja (logika untuk menyelesaikan jigsaw puzzle dng 100 potongan dan 10,000 potongan akan sama saja, meskipun gambar yg berbeda akan memiliki kompleksitas berbeda; dan tentunya makin banyak potongannya, akan makin perlu waktu untuk menyelesaikannya).

 

Employee Alignment


Setelah operational alignment selesai—atau bisa juga dilakukan secara paralel—kita perlu fokus pada alignment setiap individu dengan organisasi. Bagaikan para pemain instrumen musik dalam orkestra tadi, setiap individu harus benar2 memenuhi standar2 tertentu agar dapat berkontribusi penuh. Kompetensi menjadi hal yg penting dan kecocokan profil individu dengan profil pekerjaan juga perlu menjadi pertimbangan.

 

Dalam inisiatif ini, asesmen secara lengkap dan menyeluruh perlu dilakukan. Temasuk melihat kombinasi profil yg optimal yg dibutuhkan dalam satu tim. Jangan sampai ada tim dng hanya satu jenis profil, krn kemudian akan timbul resiko kinerja tim tidak sesuai dng yg diinginkan. Contoh, tidak bisa satu tim berisi ‘analis’ semua, krn mereka akan ingin segalanya sempurna sehingga tidak akan maju2. Atau, tidak bisa juga semua ‘cheerleader’, karena meskipun outputnya akan sekilas terlihat indah tetapi tidak ada analisis mendalam, sehingga keropos dan tidak berbobot. Juga tidak bisa semua ‘directive’ krn akan banyak berdebat tapi tidak ada yg bisa kerja ‘actual’.

 

Demikian kira2 gambaran untuk melakukan organizational alignment. Memang belum tentu inisiatif alignment akan selalu besar dan kompleks. Terkadang, hanya membutuhkan sedikit alignment dilevel puncak atau sedikit perbaikan pada design insentif atau mengganti beberapa karyawan inti. Tetapi bisa juga solusinya adalah mengganti core system, finance system atau HR system dengan aplikasi yg lebih fit dng kebutuhan organisasi. Itulah sebabnya kita perlu melihat dan mengkaji setiap komponen dalam satu organisasi.

 

7.13.2020

Metode Untuk Membantu Bisnis Bertumbuh 10x Lipat


"OKRs have helped lead us to 10x growth, many times over.  They’ve helped make our crazily bold mission of ‘organizing the world’s information’ perhaps even achievable.  They’ve kept me and the rest of the company on time and on track when it mattered the most.”

- Larry Page, Google



Salah satu kelebihan perusahaan berskala kecil hingga menengah adalah kemampuannya bergerak dengan lincah. Dengan cara kerja yg tepat, para bisnis owner dapat membawa perusahaan menjadi besar dan sukses dalam waktu yg singkat. Artikel ini mengajak para bisnis owner untuk menggunaan salah satu metode yg dapat membantu merealisasikan ambisi mereka.

 

Kebanyakan perusahaan besar, agar merasa memiliki kontrol, sudah menerapkan sistem manajemen kinerja berbasiskan target setting, seperti Key Performance Indicator (KPI) atau Balanced Score Card (BSC). Jika anda seorang bisnis owner yg ingin mengimplementasikan suatu sistem manajemen, apakah berarti anda perlu mencontoh metode yg sama? Ataukah ada cara lain yg lebih simple?


Salah satu metode alternatif yg cukup simple tetapi sangat efektif yg dapat mendukung ambisi bisnis anda adalah OKR’. OKR adalah metode yg diterapkan pada awal Google baru saja memulai bisnis mereka. Bahkan cara kerja inilah yg dikreditkan oleh Larry Page sebagai metode yg membantu Google bertumbuh 10x lipat dan berkali2 setelah itu.

 

 

Apakah OKR itu?


OKR adalah singkatan dari Objective & Key Result. Sederhananya, OKR menetapkan strategi dan arahan dalam jangka waktu pendek agar setiap karyawan dapat fokus mengejarnya. Selain itu, OKR selalu bersifat transparan dan selalu visible.

 

Logikanya, dengan arahan yg lebih simple dan ‘dapat dirasakan’, setiap karyawan dapat melihat dengan jelas bagaimana kontribusi mereka dapat berpengaruh dalam pencapaian ambisi perusahaan secara keseluruhan, selain juga membantu alignment dengan hal-hal yg sedang dikerjakan oleh karyawan lainnya.


Secara umum, metode OKR
cukup sederhana. Pertama-tama, diawal proses, bisnis owner menentukan apa yg menjadi ambisi mereka dalam jangka panjang. Lalu tentukan, sebagai gambaran awal, kira-kira apa saja milestone-milestone setiap kuartalnya yg perlu dicapai agar ambisi tersebut dapat terealisasi.

 

Kemudian, berdasarkan milestone kuartal pertama, tentukan objektif yg actionable untuk kuartal tersebut (inilah yg menjadi ‘O’). Dan tentukan hal-hal yg perlu menjadi fokus dan yg jika dikerjakan akan makin mendekati pencapaian objektif di kuartal tersebut (inilah yg menjadi ‘KR).

 


Pada akhir kuartal, lakukan review dan lakukan tindakan perbaikan/ lanjutan yg dibutuhkan untuk makin mendekati pencapaian ambisi anda. Juga review, apakan milestone yg dibayangkan diawal proses masih valid atau perlu revisi. Setelah itu, cycle OKR diulang dengan ‘O’ dan ‘KR’ yg lebih menantang lagi untuk mencapai milestone berikutnya.

 

Agar dapat efektif, Objective perlu bersifat: ambisius, actionable dan time-bound; sedangkan Key Result perlu bersifat: measurable/ quantifiable, difficult but not impossible dan jika dikerjakan akan membuat objektif tercapai.

 

Dengan menerapkan metode OKR ini, maka produktivitas karyawan akan meningkat, karena OKR memberikan fokus pada action2 yg tepat yg align dengan objektif bisnis keseluruhan. Ekspektasi bisnis owner akan menjadi jelas dan hal2 yg perlu dikerjakan juga terdefinisi dengan jelas sehingga akan lebih mudah bagi bisnis owner dalam menilai keberhasilan dan kontribusi setiap karyawan.

 

Selain itu, karena metode OKR perlu diterapkan secara transparan dan selalu visible, maka kolaborasi antar karyawan akan meningkat, karena setiap karyawan akan dapat saling mengetahui apa yg sedang menjadi fokus masing-masing, sehingga mereka dapat saling membantu.

 

 

Apakah OKR berbeda dengan metode target setting lainnya?


Untuk keperluan artikel ini, saya akan mengelompokan KPI, BSC dan metode-metode target setting menjadi satu, dimana sebenarnya target setting ini dapat dilihat sebagai suatu ambisi.

 

Bagi perusahaan dengan sumber daya manusia yg sangat kompeten dan sangat mumpuni, maka target akhir tahun bisa saja sudah cukup untuk menggerakan para karyawan kearah yg diinginkan. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua perusahaan memiliki karyawan dengan kapasitas berpikir dan bertindak yg sama, sehingga target akhir tahun—jika benar2 menantang—seringkali tidak tercapai.

 

OKR dapat diterapkan untuk mengisi kekosongan antara ambisi dan kenyataan. Jika kita memiliki impian besar—suatu ‘inspiring ultimate goal’ untuk bisnis yg sedang kita bangun, maka untuk memastikan kita selalu on-track, kita dapat menerapkan OKR untuk membantu semua orang dalam organisasi bergerak dan bekerja secara sinkron menuju kearah yg sama.

 

Tidak cukup seorang bisnis owner berhenti pada penetapan target dan kemudian menutup mata pada realita-nya. Tidak bisa sekedar mengharapkan target dapat dengan sendirinya tercapai karena sudah menjadi titah. ‘Pokoknya saya mau ini... caranya bagaimana coba dipikirkan sendiri’. Padahal disinilah para karyawan pelaksana biasanya banyak mengalami kesulitan.

 

Apalagi dengan makin berkembangnya bisnis, maka perhatian owner akan semakin sedikit dan semakin terbagi-bagi. Jadi ketika pencapaian target ditagih, sering didapati kenyataan bahwa karyawan mendeliver hasil yg tidak sesuai dengan keinginan owner. ‘Bukan ini yg saya maksud... kalian salah mengerti’. Tetapi apakah benar, mereka salah mengerti?

 

OKR tidak mengambil asumsi ini. Objective dan Key Result adalah suatu kesatuan yg tidak terpisahkan. Selain itu, disiplin untuk mereview dan melakukan perbaikan juga sudah menjadi bagian dari metode ini.

 

 

Contoh penetapan OKR


Untuk memberikan gambaran bagaimana menetapkan suatu OKR, saya ingin mengambil contoh membuat OKR untuk suatu inisiatif yg berhubungan dengan marketing dan sales.

 

Bisnis anda tentunya memiliki target sales. Setelah anda menetapkan target yg ambisius, pastinya anda mulai merencanakan inisiatif-insiatif apa saja yg perlu dijalankan agar dapat mendukung pencapaian target tersebut. Sebagai contoh, salah satu inisiatif yg anda rencanakan adalah meningkatkan social media engagement. Untuk memastikan inisiatif ini berjalan, maka anda dapat menetapkannya sebagai suatu OKR dan memilih anggota tim kerja yg sesuai untuk menjalankannya.

 

OKR untuk inisiatif dan tim kerja ini dapat saja berbentuk sbb:

O: meningkatkan social media engagement, dalam bentuk jumlah youtube subscriber, instagram follower dan blog visitor masing2 5000 dalam waktu 3 bulan

KR1: survei dan interaksi dng para pelanggan untuk mendapatkan 12 topik yg relevan dan menarik untuk diproduksi secara multi-channel selama 3 bulan

KR2: produksi dan posting 1 topik setiap minggu secara multi-channel (1 video youtube + 2 posting instagram + 2 artikel blog) selama 3 bulan

KR3: mengadakan live webinar untuk top topik setiap akhir bulan selama 3 bulan

KR4: engage 2 influencer atau komunitas baru setiap minggu dan share content link selama 3 bulan

 

Setiap hari, selama 3 bulan, setiap anggota tim kerja akan melakukan ‘cek-in’ untuk memastikan dan mendukung pencapaian KR bersama. Pada akhir bulan ketiga, anda bersama tim kerja ini kemudian melakukan review pencapaian OKR tersebut dan memastikan apakah hasil inisiatif ini sudah sesuai dengan yg diharapkan dan benar-benar on-track dalam mendukung pencapaian target sales. Pelajari apa yg berhasil atau belum berhasil, setelah itu tetapkan OKR baru yg lebih menantang agar makin dekat ke pencapaian akhir tahun. OKR baru bisa dijalankan oleh tim yg sama, atau dengan beberapa anggota tim yg diganti sesuai kemampuan yg dibutuhkan.

 

Demikian salah satu contoh bagaimana OKR dapat diterapkan. Metode OKR ini cukup flexible dan dapat diterapkan secara menyeluruh pada bisnis dan organisasi anda, dimulai dari OKR bisnis yg kemudian diturunkan ke OKR departemen atau tim. Bahkan bisa saja diturunkan hingga ke OKR individu.

 

Metode OKR ini terlihat cukup sederhana. Tetapi seperti banyak hal yg terlihat sederhana, yg akan membedakan sukses atau tidaknya penerapan OKR dibisnis anda adalah kedisiplinan dalam implementasinya. Untuk medukung penerapan OKR yg efektif, mindset yg tepat juga perlu dibangun. Sebagai catatan, sebenarnya OKR termasuk dalam toolbox cara kerja organisasi yg ‘agile’ atau ‘lincah’.  Sejalan dengan hal ini, penerapan OKR yg optimal memang membutuhkan mindset pekerja yg ‘agile’ juga. Pada saat OKR sudah menjadi bagian dari budaya dan cara kerja bisnis anda, maka impian bisnis anda berjalan secara ‘auto-pilot’ akan makin mendekati kenyataan.

 

Mengenai mindset ‘agile’ akan saya tuliskan pada kesempatan lain. Secara singkatnya, mindset ‘agile’ inilah yg banyak diterapkan oleh para startup dan perusahaan-perusahaan yg lincah dan fokus pada kebutuhan pelanggan. Dimana mereka memang dituntut untuk dapat secara terus-menerus mengikuti perubahan kebutuhan dan tuntutan pelanggan atau mereka akan ditinggalkan.


6.15.2020

Bahas Buku Filosofi Teras


Artikel ini merupakan ringkasan buku Filosofi Teras (oleh Henri Manampiring) yang ditulis untuk blog akademi suatu perusahaan Finance dengan tujuan memperkaya mindset teman-teman diperusahaan tersebut. 



Sedikit latar belakang


Menurut saya, buku Filosofi Teras membahas suatu filosofi yang cukup unik. Memang dari judulnya saja sudah unik, apalagi kalau sudah membaca dan mempelajari isinya. Filosofi Teras ini membahas berbagai cara berpikir dan kiat dari jaman old untuk mendapatkan kehidupan yang baik dijaman now.  Yang mengagumkan adalah betapa mutakhirnya filosofi kuno ini—sebagai tulisan lama, isinya sangat 'advance', sehingga tetap sangat relevan dan sangat membantu untuk diterapkan dalam keseharian sekarang ini. Bagaikan seni antik yang tetap cantik dijaman modern.


Bagusnya, filosofi ini tidak mengenal kasta. Tiga nara sumber utama yang direferensikan dalam buku ini: Epictetus, dia sebelumnya adalah seorang budak; Seneca, seorang pegawai Negeri; dan Marcus Aurellius, seorang kaisar Romawi. Para tokoh filosofi teras ini menunjukan bahwa filosofi ini dapat dipahami dan diterapkan oleh siapapun: orang2 dari ‘kasta rendah’, orang2 ‘biasa’ hingga ‘penguasa berpengaruh’. Meskipun pada awalnya kasta mereka berbeda2, pada akhirnya mereka hidup memiliki kesamaannya: dengan menerapkan dan mengajarkan filosofi ini dalam kehidupan keseharian mereka, mereka menjadi orang2 yang berkehidupan baik dan berguna untuk masyarakat sekitarnya.


Saya mulai tertarik dengan filosofi ini sejak 4-5 tahun yang lalu. Ketika itu, kebetulan saya baca artikel yang mengulas buku ‘A Guide to the Good Life’ (oleh William Irvine), saya langsung ‘nge-klik’ dengan cara berpikir filosofi ini dan langsung banyak nge-google dan membaca berbagai artikel untuk mempelajari lebih lanjut.  Sayang waktu itu, filosofi ini masih jarang didiskusikan di Indonesia, tetapi yang menyenangkan, belakangan ini mulai muncul orang2 yang memiliki ketertarikan yang sama. Nah kebetulan, sekitar tahun lalu Kompas menerbitkan buku ‘Filosofi Teras’ yang ditulis oleh Henry Manampiring.


Menurut saya buku dengan gaya tulisan Henry ini cocok sebagai perkenalan mengenai pemikiran2 dan prinsip2 hidup yang diajarkan filosofi ini. Henry menulis dengan gaya yang ringan, ‘nge-pop’ dan ‘milenial’. Henry, dengan cerdas, membuka buku dengan pembahasan hasil ‘Survei Khawatir Nasional’. Survey ini dilakukan Henry untuk memberikan gambaran—dengan berbasiskan data—mengenai tingkat 'kekhawatiran’ masyarakat Indonesia. Kekhawatiran yang dianalisa adalah secara umum dan pada beberapa aspek hidup seperti sekolah, pekerjaan, relationship, keuangan, sebagai orang tua, hingga politik Indonesia. Singkat kata, ternyata sebagian besar masyarakat Indonesia ‘lumayan khawatir/ sangat khawatir’ tentang hidup secara umum! Jadi jangan kaget kalau teman2 mengenal beberapa orang ‘neurotik’ dalam pekerjaan maupun lingkungan sosial keseharian.


Karena sebenarnya ‘kekhawatiran’ memiliki ‘biaya’—yang selain berupa uang, juga berupa energi pikiran, waktu dan kesehatan tubuh—berarti ‘the cost of worrying’ dimasyarakat cukup tinggi. Dan inilah salah satunya yang menjadikan buku Filosofi Teras ini relevan untuk diperkenalkan saat ini: bagaimana kita dapat mengatasi berbagai kekhawatiran dalam hidup kita masing2 dan mendapatkan hidup yang baik.


Kenapa dinamakan Filosofi Teras?


Dalam bahasa Inggris, sebenarnya filosofi ini dinamakan Stoicism. Filosofi ini diperkenalkan oleh seseorang bernama Zeno pada jaman kejayaan Romawi Kuno (sebelum masehi). Sebenarnya alasan penamaannya cukup simple: karena Zeno mengajarkan filsafat ini di sebuah teras, atau 'stoa' dalam bahasa Yunani, maka ia menamakan filosofi ini sebagai ‘filosofi stoa’ dan penulis menerjemahkannya kedalam bahasa Indonesia menjadi ‘filosofi teras’.  Supaya tetap simple, dalam pembahasan ini saya juga akan referensikan ajaran filosofi ini sebagai ‘Stoisisme’ dan orang2 yang menjalankan ajarannya sebagai 'Stoik'.


Jadi apa itu Stoisisme? Apa yang dibahas dalam buku ini?


Sebenarnya yang diajarkan oleh filosofi ini adalah berbagai teknik mental (mindset) dan cara hidup yang dapat mengeliminasi (atau setidaknya mengurangi) emosi negatif (seperti kemarahan, ketakutan, kecurigaan, keresahan, ketidakpuasan) dan mengajak kita untuk fokus dalam membangun kebahagiaan yang nyata (‘inner joy’) dalam diri kita dengan selalu melakukan kebajikan (‘virtue’)


Ringkasnya, tiga hal berikut yang menjadi fokus Stoisisme untuk mendapatkan hidup yang baik:

-       menghilangkan emosi negatif,

-       melakukan kebajikan (‘virtue’),

-       membangun kebahagiaan nyata (‘inner joy’).

 

Agar pembaca memiliki pengertian yang sama, ‘kebajikan’atau ‘virtue’ dimaknakan oleh filosofi ini sebagai empat hal:

-       keberanian,

-       kebijaksanaan,

-       kemampuan menahan diri dan

-       keadilan.


Simple, tidak muluk-muluk.. suatu filosofi hidup yang realistis dan pastinya dapat diterapkan oleh semua orang.


Sebagai perkenalan dan sekalian ajakan untuk membaca buku ini dan mempelajari Stoisisme lebih lanjut, saya akan mulai dengan membahas beberapa mindset inti yang menjadi pondasi Stoisisme. Setelah mindset ini benar2 kita pahami, kita akan lebih mudah mengikuti tips2 dan aplikasinya yang banyak dibahas oleh Stoisisme dan buku ini. Berikut tiga pemikiran inti pemikiran yang menjadi pondasi Stoisisme:


1.   Hidup sesuai esensi dasar


Filosofi ini percaya bahwa mahluk hidup perlu selalu hidup selaras dengan alam—sesuai ‘nature’-nya... sesuai 'esensi dasar’ mereka diciptakan.

 

Salah satu esensi dasar manusia adalah hidup dengan menggunakan nalar, akal sehat dan rasio. Jadi, agar hidup sesuai dengan esensi dasar, kita harus selalu hidup dengan ‘sadar’—hidup dengan selalu menggunakan nalar dan melakukan ‘kebajikan’.

 

Berarti, kita harus selalu dengan ‘sadar’ menjaga diri agar jangan sampai kita terperangkap dalam situasi dimana kita tidak menggunakan nalar dalam bertindak.

 

Selain memiliki nalar, secara esensi dasarnya, manusia adalah mahluk sosial. Oleh sebab itu, akan percuma saja kalau seseorang sebenarnya bijak dan serba tahu, tetapi mengisolasi diri dari manusia lainnya. Atau sebaliknya, kehidupan sosial seseorang aktif sekali, tetapi tidak menggunakan nalar dan sering dikuasai emosi negatif, seperti sering iri hati dan marah2.


2.   Fokus pada hal2 yang bisa kita kendalikan


Konsep mengenai kontrol dan hal2 yang bisa kita kendalikan ini sangat sentral dalam Stoisisme. Dalam bersikap, kita perlu selalu membedakan hal-hal dalam hidup yang bisa kita kendalikan dan yang tidak...

 

§  Hal2 dalam kendali kita, berupa segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri, termasuk:

-       pertimbangan (judgment) kita;

-       opini dan persepsi kita;

-       keinginan kita dan tujuan kita.

 

§  Hal2 yang tidak dibawah kendali kita, berupa segala sesuatu yang diluar pikiran dan tindakan kita, a.l.:

-       kondisi kita lahir (orang tua, jenis kelamin, etnis);

-       peristiwa alam (cuaca, gempa bumi);

-       tindakan orang lain, opini dan persepsi orang lain.

 

§  Hal2 yang sebagian bisa kita kendalikan. Dalam penerapannya, kita perlu sadar dan dapat membedakan tujuan dari dalam diri kita (internal goal) dengan hasil (outcome) eksternal. Contoh:

-       Keberhasilan dalam perlombaan. Dimana kita sudah berlatih dengan optimal (dalam kendali) dengan harapan akan menang dalam perlombaan (internal goal). Apakah pada akhirnya benar menang atau kalah merupakan outcome eksternal (diluar kendali).

-       Keberhasilan kita dalam pekerjaan, sekolah, hubungan sosial.

 

Memang pada umumnya, semakin baik kita mengerjakan sesuatu (mengejar internal goal) maka semakin besar peluang kita mendapatkan hasil (outcome) yang kita harapkan. Tetapi dengan tetap menyadari bahwa outcome—hasil akhir—sebenarnya diluar kendali langsung kita, saat kita gagal karena faktor dan variabel external, maka kita tidak perlu berlarut meratapi kegagalan tersebut. Move on.

 

Inilah 'pasrah' versi seorang Stoik—kita perlu selalu melakukan yang terbaik yang ada dalam kontrol kita dengan harapan mendapatkan hasil yang terbaik. Selebihnya kita serahkan pada ‘semesta’. Jadi tidak perlu emosional dan drama jika hasil jerih payah kita ternyata tidak sesuai harapan.

 

Pandangan filosofi ini mengenai kendali bukanlah semata mengenai kemampuan kita mendapatkan sesuatu, tetapi lebih dititikberatkan mengenai kemampuan kita untuk mempertahankan sesuatu. Jadi perlu kita sadari dan pahami apakah sebenarnya kita memiliki 100% kontrol untuk mempertahankan apa yang kita miliki. Sebagai contoh:


-   Meskipun kita sudah membangun usaha dengan kerja keras dan sudah sukses, karena pandemi yang datang mendadak, pendapatan tiba2 tergerus secara drastis dan terpaksa usaha ‘sukses’ tersebut kita tutup; atau


-   Meskipun kita sudah rajin berolahraga, makan sehat dan sudah memiliki kesehatan sudah optimal, tiba2 ditabrak mobil atau tertular virus.


-   Punya suatu koleksi mahal dirumah, tiba2 menjadi korban kebakaran.

 

Menurut filosofi ini, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan (perlakuan orang lain, opini, status, popularitas) adalah tidak rasional. Padahal sesuai ajaran pada poin pemikiran pertama: kita perlu hidup sesuai esensi dasar kita diciptakan... dan sebagai manusia, berarti kita perlu selalu hidup secara rasional.


Mengenai Atribut


Masih berhubungan mengenai kendali: kekayaan, gelar atau pangkat seseorang—karena ini semua adalah hal-hal eksternal, sekedar atribut dan sebenarnya diluar kendali—maka itu semua tidak bisa digunakan untuk menilai hidup seseorang.

 

Baik atau buruknya seseorang lebih terletak pada hal2 yang ada dibawah kendalinya secara langsung—pemikiran, opini, interpretasi, tindakan dan perkataan—dan bukan atributnya.

 

Inilah pandangan yang sangat menarik dan benar2 inklusif dari filosofi ini. Dengan menyadari apa yang dibawah kendali, maka semua orang—apapun kondisinya saat ini—memiliki kapasitas yang sama dalam mendapatkan kebahagiaan dan menjalankan hidup yang baik.


Mengenai Indifference


Selanjutnya filosofi ini juga membahas mengenai konsep indifference (terjemahan langsung: tidak ada bedanya/ sama saja/ ‘cuek’) dan perlunya kita selalu menyadari akan sifat dasar dari benda2 yang ada disekeliling kita. Seorang Stoik akan memperlakukan benda2 tersebut apa adanya dan tidak berlebihan—gelas untuk minum, smartphone untuk komunikasi, mobil untuk transportasi—memang ada gelas atau smartphone atau mobil yang harganya mahal sekali, tetapi fungsinya tetap sama.

 

Dengan pandangan indifference ini bukan berarti kita tidak dapat menikmati keberhasilan, posisi, kekayaan, barang2 dan gadget2 bagus. Filosofi ini mempersilahkan kita menikmati rejeki yang kita dapatkan, tetapi seorang Stoik akan selalu mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak bergantung kepada keberadaan hal2 tersebut (menghindari attachment). Sekali lagi, disini nalar/ rasionalitas kita menjadi penekanan Stoisisme.

 

Konsep indifference ini dapat diterapkan juga pada cara kita memandang manusia dan mahluk hidup lainnya. Karena secara nature mahluk hidup adalah fana (bisa mati), maka ketika kematian datang, semestinya kita tidak perlu sedih berkepanjangan.

 

Malah sebaliknya, dengan memahami pandangan ini (bahwa semua mahluk hidup akan mati), maka dengan sadar kita perlu menghargai setiap momen bersama dan tidak ‘take for granted’ keluarga dan teman2 kita—jangan sampai kita menganggap remeh keberadaan mereka, untuk menghindari penyesalan berkepanjangan ketika mereka meninggal. Sekali lagi, yang bisa kita kendalikan adalah sikap kita kepada orang lain.

 

Dengan pandangan ini, kita bisa menghindari tendensi menggantungkan 'kebahagiaan' dan ‘kesuksesan’ pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan


Mengenai Keinginan dan Kekayaan


Epictetus menulis: “Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.” Dan Seneca menulis: “If you live according to what others think, you will never be rich.”

 

Dalam pandangan seorang Stoik: ada yang lebih nikmat dan berharga daripada keinginan yang terpenuhi, yaitu tidak adanya keinginan itu sendiri. Filosofi ini mengajarkan bahwa sebenarnya kekayaan adalah suatu kondisi atas ‘kebebasan dari keinginan’.

 

Kembali kepada konsep kendali: agar dapat mengurangi keinginan, kita perlu sadar dan mengenali betul apakah sebenarnya yang kita inginkan... Apakah sebenarnya yang kita inginkan adalah hal2 yang diluar kendali kita?

 

Jadi, solusi untuk iri (‘jealous’) adalah dengan belajar untuk meng-ingin-kan apa yang kita sudah miliki, daripada meng-ingin-kan hal lainnya.


3.   Mengendalikan Interpretasi


Melanjutkan konsep mengenai kontrol, Epictetus menjelaskan, sebenarnya segala keresahan dan kekhawatiran kita hanya ada dalam pikiran kita. “It is not things that trouble us, but our judgment about things.”

 

Kekhawatiran sebenarnya tidak berhubungan dengan hal atau peristiwa eksternal yang kita alami, seperti ban motor kempes, padahal masih jauh dari kantor dan sudah mepet mau rapat penting. Atau rumah kebanjiran. Atau berasa gak ada apa2, tiba2 dipanggil dan dimarahin bos.

 

Filosofi ini memisahkan apa yang ditangkap oleh indra kita (impresi) dan interpretasi-nya (makna-nya). Biasanya kita memberikan interpretasi (penilaian) terhadap suatu peristiwa yang kita alami. Peristiwa itu sendiri biasanya netral (apa adanya—tidak baik dan tidak buruk), tetapi dapat menjadi positif atau negatif karena interpretasi dan makna yang kita berikan.

 

Contoh seorang Jawa bertemu pertama kali dengan seorang Batak. Orang Batak tersebut berbicara dengan keras, lantang dan cuek. Cara bicara ini bagi dirinya adalah ‘netral’. Tetapi orang Jawa sebagai lawan bicaranya, menginterpretasikan orang tersebut ‘kasar’. Sebenarnya penilaian keduanya tidak benar. Bicara keras adalah fakta objektif, tetapi ‘kasar’ atau ‘netral’ adalah penilaian subjektif.

 

Contoh lain: seseorang kena PHK dan secara otomatis langsung down atau marah. Pikiran yang terlintas: ‘hidup saya selalu sial, kerjaan saja gak bisa saya pertahankan’ atau ‘kiamat, habis sudah hidupku’ atau ‘kurang ajar, memang bos sudah gak suka dengan saya dari dulu’.  Sekali lagi, pikiran2 ini adalah opini dan interpretasi kita sendiri.

 

Marcus Aurelius menulis: “Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/ persepsimu sendiri. Dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapanpun juga.”

 

Tulisan Marcus, mereferensikan balik bahasan mengenai kontrol. Kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal-hal yang bisa dikendalikan—yaitu pikiran, persepsi dan pertimbangan kita sendiri. Seharusnya, kebahagiaan tidak perlu bergantung pada hal-hal eksternal.

 

Meneruskan contoh PHK, sebenarnya jika kita tenang, sadar dan rasional, kita bisa mengubah persepsi kita menjadi: ‘ini kesempatan mengubah karir ke bidang yang saya mau’, atau: ‘lumayan dengan pesangon saya bisa coba bisnis online’, atau ‘ini ujian bagi kesabaran dan keuletan saya agar tidak terulang dimasa depan’.

 

Pada prakteknya memang tidak mudah, karena sangat seringnya interpretasi muncul secara otomatis yang berakhir pada emosi negatif. Cara satu2nya adalah kita perlu secara aktif dan sadar untuk selalu belajar mengendalikan interpretasi kita terhadap suatu peristiwa.  Sekali lagi, nature manusia adalah menggunakan nalar—jika kita tidak menggunakan nalar, maka sebenarnya kita tidak begitu berbeda dengan binatang.

 

Sebagai rangkuman, biasanya inilah yang terjadi:


PERISTIWA --> INTERPRETASI OTOMATIS --> EMOSI NEGATIF.


Dengan sadar dan menggunakan nalar, maka dpt kita ubah menjadi:


PERISTIWA --> INTERPRETASI RASIONAL --> EMOSI POSITIF.


Demikian beberapa inti pemikiran Stoisisme yang dibahas dalam buku ini. Meskipun cukup sederhana, kebayang akan lumayan menantang untuk dipraktekan. Untuk itulah, dalam bab2 selanjutnya dibahas berbagai teknik dan tips praktis untuk melatih mindset kita, yang mencakup:

-       bagaimana memperkuat mental

-       hidup diantara orang yang menyebalkan

-       menghadapi kesusahan dan musibah

-       menjadi orang tua (parenting)

-       menjadi warga dunia (citizen of the world)

-       tentang kematian.


Sepertinya agar relevan dan punya rasa lokal, penulis juga menyelipkan beberapa wawancara dengan beberapa blogger dan pengusaha muda Indonesia yang mempraktekan Stoisisme—bagaimana filosofi ini membantu mereka menjawab berbagai tantangan yang mereka hadapi dan bagaimana filosofi ini berguna untuk kehidupan mereka. Jadi cukup lengkap dan menarik untuk segera dibaca bukunya.


Penutup


Stoisisme menitikberatkan pada kesadaran dan perubahan mindset yang berujung pada action. Karena mengubah mindset membutuhkan proses dan waktu, maka semakin sering dipraktekan dan semakin banyak latihan, mindset yang benar akan semakin terbentuk. Oleh sebab itulah kebanyakan Stoik adalah 'work in progress'—kebanyakan masih belajar untuk selalu sadar dan menggunakan nalar. 


Yang terpenting adalah kita sudah terbangun dan lebih sadar, jadi setiap ada tantangan, kita dapat segera mencoba menahan diri dan mencoba mempraktekan filosofi ini.


Dengan mempraktekan filosofi ini, kita akan menjadi lebih tahan banting (resilient), lebih bijak dan lebih bahagia dan kita bisa mendapatkan hidup yang lebih baik. Jadi, jika teman2 tertarik untuk mempelajari lebih lanjut, saya rekomendasikan untuk segera pesan atau pinjam dan langsung saja dibaca.


Sebagai penutup, saya akan mencantumkan beberapa quote dari para Stoic yang menjadi bahan bahasan dalam filosofi teras ini:


Epictetus:

“We should always be asking ourselves: ‘Is this something that is, or is not, in my control?’”

 “Anything or anyone capable of angering you becomes your master.”

“It’s not what happens to you, but how you react to it that matters.”

“Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.”

“Don't demand that things happen as you wish, but wish that they happen as they do happen. And you will go on well”


Seneca:

“A gem cannot be polished without friction, nor a man without trials.”

“It’s not because things are difficult that we dare not venture. It’s because we dare not venture that they are difficult.”

“We suffer more often in imagination than in reality.”


Marcus Aurelius:

“You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.”

“If you are pained by any external thing, it is not this thing that disturbs you, but your own judgment about it. And it is in your power to wipe out this judgment now.”